Tampilkan postingan dengan label lingkungan sekitar cuy . . .. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan sekitar cuy . . .. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Sistem Kebut Semalam

           Minggu-minggu ini banyak hal-hal yaang ga pernah aku liat di kampus. Saat ini mereka sibuk mencari kawan untuk belajar karena akan menghadapi UTS.. ( Ujian Tidak Serius) katanya, gtu..
Aqu juga mikir kan, kenapa pada saat hari-haei biasa di kampus mereka malah sibuk dengan hal-hal yang ga penting. Padahal tugas kita sebagai mahasiswa adalah belajar.. Eeeaaa kn sob???

           Entah apa yang mereka pikirkan tapi mereka mempunyai pandangan bahwa belajar itu nomer 2, padahal orang tua kawan2 sibuk banting tulang  nyari biaya buat kawan2 semua. Mungkin ini juga ga terlepas dari diri saya sendiri. Tapi emang kehidupan dikampus tu bisa dibilang susah2 gampang... kalo kita nganggep susah ya bakalan susah beneran, tapi kalo kita anggep gampangg ya bakaln kebablasan..

Jumat, 24 Februari 2012

TRIK KENA TILANG ...!!!


(copas dari Dewan Pengurus KAMMI se-Indonesia)

Beberapa waktu yang lalu, saya pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan yang menarik, ketika sopir taksi hendak di tilang oleh polisi. Teringat oleh saya dialog antara polisi dan sopir taksi.

Polisi (P), Polisi 2 (P2), Sopir (S), Aku (A)


P : Selamat siang mas, bisa lihat SIM dan STNK?

S : Baik Pak.

P : Mas tau...kesalahannya apa?

S : Gak pak


P : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor yg gak standar) *sambil langsung mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang. Lalu menulis dg sigap.*

Sop : Pak jangan ditilang deh. Wong plat aslinya udah gak tau hilang kemana? Kalau ada pasti saya pasang.


P : Sudah, saya tilang saja! Kamu tau gak banyak mobil curian sekarang? *dengan nada keras!!*

S : *Dengan nada keras juga* Kok gitu! Taksi saya kan ada STNK nya Pak. Inikan bukan mobil curian!

P : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot *dengan nada lebih

Senin, 28 November 2011

pemanasan global

Gambaran Umum Global Warming, Efek Dan Cara Untuk Mencegah Pemanasan Global Dunia
Sun, 30/12/2007 - 2:05am — opik106

Kita semua sama2 tahu bahwa pemanasan global sedang terjadi. IPCC melaporakn penelitiannya bahwa 0,15 - 0,3o C. Jika peningkatan suhu itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang) lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga kelaparan pun akan meluas di seantero jagat.

Udara akan sangat panas, jutaan orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu. Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap, begitu pula nyawa manusia.

Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata, permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta (seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti : Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

read more >>   (klik judul wacana)


Kamis, 17 Desember 2009

SAMPAH BISA JADI POTENSI

Dewasa ini masalah sampah merupakan penomena sosial yang perlu mendapat perhatian
dari semua fihak, karena setiap manusia pasti memproduk sampah, disisi lain masyarakat
tidak ingin berdekatan dengan sampah. Banyak contoh di beberapa daerah, yaitu sampah
tidak dikelola dengan rutin berakibat pada tumpukan sampah yang berdampak pada
lingkungan dan gangguan kesehatan, bahkan bisa saja terjadi merenggut nyawa dari
ledakan gas sampah di tempat pembuangan akhir.
Untuk menghindar terjadinya tumpukan sapah telah dikembangkan pengelolaan dengan
sistem open dumping ataupun sanitari renfile, namun lama kelamaan cara seperti itu akan
banyak menyita lahan yang semakin luas. Dewasa ini berkembanglah pengelolaan
sampah dengan memisahkan sampah organik dan anorganik
Sampah organik yang terdiri dari sampah domestik dan sampah pasar dari bekas
sayuran,buah yang terapkir bisa diolah menjadi pupuk organik, sedangkan sampah
anorganik dipisah menjadi beberapa bagian, seperti halnya daur ulang plastik atau daur
ulang biji besi dengan menggunakan teknologi.
Sejalan dengan itu, pada tahun 2006 di Kota Sukabumi sedang dikembangkan
pengelolaan sampah dan pengolahan sampah secara terpadu antara pemerintah,
masyarakat pemulung dan koperasi yang merasa tertarik dengan proses daur ulang
sampah melalui PRODUS ( Produk Daur Ulang Sampah)
Dijelaskan oleh Prof. Dr. Iswandi Anas bahwa Kebutuhan hara tanaman itu ada 16 unsur
esensial, yaitu sembilan unsur meliputi C, H, O, N, P, K, Ca, Mg Dan S sedangkan yang
tujuh lagi meliputi Zn, C1, Mn, Mo, B, Fe, dan Cu. Unsur hara mikru diperlukan untuk
pertumbuhan dan produksi. Sedangkan Pupuk anorganik hanya menambahkan untus N,
P, K sedang unsur lain tidak ditambah, hal ini berakibat pada keseimbangan hara yang
terganggu.
Bahan baku pupuk organik berasal dari hewan maupun tumbuh-tumbuhan misalnya yang
berasal dari jerami, kulit, buah (kakao) sisa pengolahan hasil pertanian, limbah sayuran,
blotong tebu, tandan kosong kelapa sawit.
Lebih lanjut dijelaskan oleh Ir. Sri Bebassari, M.Si meninjau pengelolaan sampah dari
beberapa asepek, seperti halnya dari aspek hukum, institusi, pendanaan, peranserta
masyarakat, teknologi.
Karena masalah sampah sudah merupakan masalah nasional, dipandang perlu untuk
membuat UU tentang persampahan, perlu ada PP, Juklah, juknis serta sosialisasi produk
hukum pengelolaan sampah. Bahkan diperlukan adanya institusi khusus baik nasional,
lokal yang terintegrasi dengan stakeholder dalam pengelolaan sampah.
Pendanaan dibidang pengelolaan sampah jangan dipandang sebagai suatu beban tapi
harus disikapi sebagai investasi yang mampu mendorong pertumbuhan dan produktivitas
ekonomi dengan prinsip poluters pay principle, produsen bertanggung jawab atas sampah
yang dihasilkannya, dilain pihak partisipasi swasta dalam pembangunan dan
pengoperasian fasilitas persampahan.
Sebaik apapun manajemen persampahan, tanpa didukung oleh partisipasi masyarakat
akan menemui kegagalan karena setiap mahluk hidup adalah produsen sampah makanya
harus diciptakan keseimbangan antara socio engineering dengan pemberdayaan
masyarakat.
Kajian teknologi pengelolaan sampah menggunakan pendekatan reduce, reuse dan ricycle
dengan prioritas 1-5 tahun memperbaiki TPA dan pengolahan sampat terpadu di TPA,
Jangka 1-10 tahun pengelolaan sampah terpadu skala kawasa dan 1-20 tahun pengelolaan
sampah di sumber rumah tangga, industri, pertanian, pasar, pertokoan, perkantoran hotel
dan sebagainya.

Senin, 09 November 2009

drug


A drug, broadly speaking, is any substance that, when absorbed into the body of a living organism, alters normal bodily function.[3] There is no single, precise definition, as there are different meanings in drug control law, government regulations, medicine, and colloquial usage.[4]
In pharmacology, a drug is "a chemical substance used in the treatment, cure, prevention, or diagnosis of disease or used to otherwise enhance physical or mental well-being."[4] Drugs may be prescribed for a limited duration, or on a regular basis for chronic disorders.[5]
Recreational drugs are chemical substances that affect the central nervous system, such as opioids or hallucinogens.[5] They may be used for perceived beneficial effects on perception, consciousness, personality, and behavior.[5][6] Some drugs can cause addiction and habituation.[6]
Drugs are usually distinguished from endogenous biochemicals by being introduced from outside the organism.[citation needed] For example, insulin is a hormone that is synthesized in the body; it is called a hormone when it is synthesized by the pancreas inside the body, but if it is introduced into the body from outside, it is called a drug.[citation needed]
Many natural substances such as beers, wines, and some mushrooms, blur the line between food and drugs, as when ingested they affect the functioning of both mind and body.

Jumat, 06 November 2009


Polusi Udara Jakarta

Kata Kunci: hujan asam, lingkungan, polusi, rokok
Ditulis oleh Yulianto Mohsin pada 27-07-2004

Kota Jakarta Tanggal 31 Mei yang lalu ditetapkan sebagai hari tanpa rokok sedunia (World No Tobacco Day). Indonesia tidak turut ketinggalan ikut serta merayakan hari ini untuk membantu mengingatkan masyarakat akan bahaya merokok dan juga untuk mengurangi polusi udara dari asap rokoki. Kebetulan pada hari yang sama saya mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Banten. Perjalanan yang saya lakukan kali ini dalam rangka berlibur, sekaligus mampir di Jepang bertemu rekan-rekan pengelola situs Kimia Indonesia. Karena pesawat Japan Airlines yang saya tumpangi mendarat sore hari, dari jendela pesawat saya dapat mengamati skyline ibukota di daerah sekitar bandara.

Dari dalam pesawat dapat saya saksikan gumpulan asap coklat yang tebal mengambang di atas kota. Ternyata berbagai macam polutan udara mulai dari asap rokok, asap kendaraan bermotor, asap bakaran sampah, asap-asap pabrik, dan lain-lain yang dikeluarkan secara terus-menerus selama bertahun-tahun telah membuahkan bukan saja pemandangan tak sedap, tapi juga dampak yang buruk. Saya yang tidak tinggal dan jarang mengunjungi ibukota, merasakan dengan jelas dampak polusi ini. Di dalam kota, ketika saya menengadahkan kepala menatap ke atas, terlihat langit Jakarta yang kecokelat-cokelatan dan suhu udara yang panasnya bukan main (efek rumah kaca). Dan ketika saya jogging keesokan paginya, nafas saya sempat sesak. Ditambah lagi saya jadi sering pilek dan bersin-bersin. Hal yang lazimnya tidak saya alami di kota kediaman tempat saya tinggal di AS.

Ternyata pengalaman saya bukan merupakan sesuatu yang aneh. Kolom popular Muda harian Kompas tanggal 4 Juni menurunkan artikel mengenai polusi Jakarta dengan judul “Gawat, Kita Dikepung Polusi”ii. Penulis artikel menulis, “orang yang hidup di kota besar kebanyakan menderita gangguan pernapasan, yang baru disadari setelah menjalar ke radang tenggorokan dan paru-paru.” Mungkin karena saya tidak terbiasa dengan udara Jakarta, gangguan pernapasan ini langsung dapat saya rasakan ketika baru sampai di sana.

Lain Jakarta, lain halnya kota New York. Kota metropolis dunia ini saya yakin menghasilkan polusi udara yang sama bahkan mungkin lebih banyak dari Jakarta. Tetapi selain memiliki paru-paru kota berupa taman umum Central Park yang luasnya sekitar 3,4 juta m2 ini, banyak usaha lainnya yang telah dilakukan untuk mengurangi polusi udara di kota New York. Di antaranya adalah larangan merokok di dalam berbagai tempat umum seperti restoran, pub, gedung-gedung perkantoran, hotel, dan sebagainya (baca artikel Bahaya Asap Rokok - Red). Keadaan cuaca dan letak geografis sebuah kota juga sangat menentukan. Kota New York yang karena letak geografisnya mengalami empat musim, memiliki musim dingin di mana udara dingin ketika musim gugur dan musim salju tiba menghalau kabut tebal polusi ini ke atas. Sedangkan di Jakarta yang tropis, asap polusi ini mengambang dan terus menumpuk di udara tidak jauh dari tanah, pemandangan yang saya lihat dari pesawat ketika akan mendarat.

Sadar akan bahaya polusi udara yang tinggi, pemerintah AS juga telah mengeluarkan Undang-undang Udara Bersih (Clean Air Act) pada tahun 1990iii. UU yang tebalnya 800 halaman ini sebenarnya telah dikeluarkan sejak tahun 1970, tapi banyak amandemen baru yang dimasukkan di UU tahun 1990.

Dampak buruk polusi udara ini sangat banyak. Satu di antaranya adalah hujan asam (acid rain). Amendemen tahun 1990 UU Udara Bersih AS menargetkan pengurangan emisi sulfur dioksida dan nitrogen dioksida sampai 50 persen. Hujan asam terbentuk ketika kedua senyawa kimia tersebut bereaksi dengan oksigen, air, dan senyawa-senyawa lainnya di awan untuk membentuk solusi asam sulfur dan asam nitrik yang lemah. Sebenarnya senyawa-senyawa kimia ini juga terdapat secara alami (letusan gunung merapi dan kebakaran hutan mengeluarkan sulfur dioksida), tetapi proses alami ini hanya menghasilkan sedikit hujan asam. Air hujan biasa memiliki tingkat keasaman pH sekitar 5.6, tetapi pH air hujan asam bisa serendah 4.3 (ingat jika memakai skala pH, senyawa yang memiliki pH 4 memiliki tingkat keasaman 10 kali lebih asam ketimbang yang memiliki pH 5)iv. Mineral-mineral seperti kalsium dan magnesium sebenarnya dapat menetralkan asam-asam di tanah. Tapi sejalan dengan waktu dan erosi, banyak tanah yang kandungan mineral-mineral pentingnya berkurang.

Hujan asam dapat meningkatkan tingkat keasaman sungai dan danau yang mengakibatkan matinya ikan-ikan dan penghuni habitat kedua tempat tersebut. Hujan asam juga dapat merusak bangunan dan properti lainnya, menodainya menjadi hitam. Hal ini kentara jika kita melihat gedung-gedung di Jakarta yang bagian atasnya kehitam-hitaman. Hujan asam juga terbukti memberikan efek buruk kepada kesehatan. Udara yang terkena siraman hujan asam telah dihubungkan dengan problema pernapasan dan paru-paru pada anak-anak dan orang-orang yang menderita asma.

Perlu kemauan keras pemerintah (yang tertuang dalam sebuah UU) dan perangkat pelaksananya untuk mengurangi tingkat polusi. Tidak ketinggalan juga partisipasi kita sebagai masyarakat. Artikel Muda yang disebut di atas memiliki 21 tips untuk mengurangi polusi. Hal-hal yang dapat kita lakukan sehari-hari:

1. Mengurangi jumlah mobil lalu lalang. Misalnya dengan jalan kaki, naik sepeda, kendaraan umum, atau naik satu kendaraan pribadi bersama teman-teman (car pooling).
2. Selalu merawat mobil dengan seksama agar tidak boros bahan bakar dan asapnya tidak mengotori udara.
3. Meminimalkan pemakaian AC. Pilihlah AC non-CFC dan hemat energi.
4. Mematuhi batas kecepatan dan jangan membawa beban terlalu berat di mobil agar pemakaian bensin lebih efektif.
5. Meminimalkan penggunaan bahan kimia.
6. Membeli bensin yang bebas timbal (unleaded fuel).
7. Memilih produk yang ramah lingkungan. Misalnya parfum non-CFC.
8. Memakai plastik berulang kali. Sampah plastik sulit diurai dan kalau dibakar menimbulkan zat beracun.
9. Tidak merokok.
10. Memilah antara sampah basah dan sampah kering dan menyediakan tempat untuk keduanya.
11. Memfotokopi secara bolak-balik atau memakai kertas yang sisinya masih kosong. Menghemat kertas berarti mengurangi penggundulan hutan. Bumi yang hijau dapat menyerap polusi lingkungan lebih baik.
12. Menggunakan lampu dengan kapasitas yang tepat.
13. Bila kita menggunakan kamar kecil, jangan lupa mematikan air setelah kita pakai. Ingat, semakin banyak air terbuang percuma berarti kita turut memboroskan sumber daya alam.
14. Menghiasi rumah dan lingkungan dengan tanaman asli.
15. Kalau toilet menggunakan pengharum ruangan, pilih yang tidak mengandung aerosol.
16. Jangan membuang sampah sembarangan, terutama di sungai, selokan dan laut.
17. Menggunakan lebih banyak barang-barang yang terbuat dari kaca/keramik, bukan plastik atau styrofoam.
18. Sebisa mungkin menghindari menggunakan barang/produk dengan kemasan kecil (sachet) karena akan menambah jumlah sampah.
19. Membiasakan menggosok gigi dengan menggunakan gelas, bukan menyalakan keran terus-menerus. Jangan sia-siakan air bersih.
20. Sebisa mungkin menggunakan lap atau sapu tangan untuk menggantikan tisu yang terbuat dari kertas.
21. Mengurangi belanja yang tidak perlu agar tidak menimbulkan sampah di kemudian hari.

Referensi:

1. Perokok Pasif Mempunyai Risiko Lebih Besar Dibandingkan Perokok Aktif (Situs web Departemen Kesehatan)
Sambutan Menteri Kesehatan Dr. Achmad Sujudi pada puncak peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2004.
2. Gawat, Kita Dikepung Polusi
Artikel di kolom Muda harian Kompas: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0406/04/muda/1060821.htm. The Plain English Guide to the Clean Air Act
3.
4. Carrie Dierks, “Acid Rain Is Still a Threat”, Oktober 2001.
5. Menristek: Transportasi Penyumbang Gas Pencemar Terbesar